Powered By Blogger

Sabtu, 07 Januari 2012

REFLEKSI KELOMPOK 5,6,7,8,9.


Hasil Refleksi Kelompok 5 ( tanah )
Aku suka banget dengerin presentasi yang di bawakan kelompok 5 aku merasa semangat karena kelompok 5 itu menjelaskan materi dengan jelas dan tidak hanya membaca slide saja. Tadi ada beberpa pertanyaan yang muncul diantaranya :
1.      Indri menanyakan mengapa pada lapisan tanah yang paling bawah jumlah mikroorganisme semakin sedikit? Jawaban dari kelompok lima yaitu pada lapisan tanah yang paling bawah sudah tidak mengandung mineral,sehingga mikroorganisme tidak dapat hidup dan pada lapisan tanah yang paling bawah itu sudah berbentuk seperti bebatuan.
2.      Dimas menanyakan apakah kandungan pada setiap lapisan tanah itu sama? Jawaban dari kelompok lima yaitu kandungan pada setiap lapisan tanah itu tidak sama.
3.      Hatta menanyakan apakah air bisa menembus sampai lapisan tanah yang paling bawah? menjawab apabila air itu sudah berada pada daerah atas dari tempat yang kedap air maka air tersebut tidak bisa meresap tetapi akan mengumpul pada daerah tersebut,dan bisanya dimanfaatkan manusia sebagai sumur.
Berdasarkan presentasi ini saya bisa mendapatkan pengetahuan tentang struktur tanah dan kandungan-kandungan yang ada pada tanah. Selain itu tanah merupakan unsure yang paling  penting bagi kelangsungan hidup tumbuhan.

Hasil Refleksi Kelompok 6 ( populasi )
Presentasi yang disampaikan kelompok 6 membuat saya grogi kerena saya yang menjadi  presentator,pada penampilan kami tidak menampilkan sesuatu yang menarik dan lucu melainkan saya hanya membacakan materi yang sudah ada di power point hal ini yang membuat saya gak mengerti dengan materi yang saya bawakan sendiri. Tetapi meskipun saya tidak begitu paham dengan materi yang saya bawakan dengan presentasi ini saya dapat sedikit mengetahui tentang populasi.
Pada saat presentasi ada beberapa pertanyaan yang ditanyakan oleh audien diantaranya:
Pertanyaan pertama berasal dari Mbak dista memberikan pertanyaan: Factor apa yang menyebabkan terjadinya grafik membentuk huruf J dan huruf S? ?
Pertanyaan dijawab oleh fitri : pada grafik eksponensial dipengaruhi oleh kelahiran tumbuhan yang terus meningkat sampai adanya factor pembatas yang menyebabkan kematian tumbuhan. Sehingga grafik membentuk huruf J yang artinya pertumbuhan terus meningkat. Sedangkan pada grafik sigmoid: pertama terjadi pertumbuhan tumbuhan yang lambat yang dipengaruhi oleh lingkungan yaitu persaingan individu. Kedua jika kondisi lingkngan mendukung maka terjadi petumbuhan lagi dengan natalitas tertentu sampai pada bertemu lagi kondisi lingungan yang tidak mendukung dan terjadi kematian (mortalitas) tumbuhan. Pertumbuhan yang naik turun ini menyebabkan terjadi grafik yang membentuh huruf S.
Pertanyaan kedua dari Chasan yaitu apakah penyebaran umur dan populasi biotik merupakan karakteristik populasi?.
Jawaban dari kelompok enam yaitu penyebaran umur dan populasi biotik juga merupakan karakteristik populasi secara umum sedangkan yang secara khusus yaitu kerapatan, natalitas, mortalitas, distribusi, bentuk pertumbuhan populasi dan fluktuasi populasi.
Dari presentasi ini saya bisa mengerti tentang karakteristik dari populasi serta factor-faktor  yang mempengaruhi pola penyebaran populasi sehingga dengan demikian saya bisa menjaga suatu populasi misalnya populasi rusa di padang savana supaya tidak punah.

Hasil Refleksi Kelompok 7 ( komunitas tumbuhan )
Saat mengikuti  presentasi kemarin saya merasa tidak semangat alias muualesss karena saya duduk di belakang sendiri dan saya merasa nguantuk, padahal presentasi yang di tampilkan kelompok 7 cukup bagus sehingga saya sedikit dapat menangkap materi yang diberikan oleh pemateri. Saya sedikit mengetahui tentang interaksi antar organisme yang kurang erat yaitu interaksi yang bersifat tidak menguntungkan kedua belah pihak contohnya yaitu Netral. Sedangkan interaksi yang bersifat erat yaitu interaksi yang dapat menimbulkan keuntungan pada salah satu atau kedua belah organisme tersebut. contohnya predator, hubungan antara predator dengan mangsanya.

Hasil Refleksi Kelompok 8 ( metode analisis vegetasi )
Pada presentasi kelompok 8 masih aja kayak orang lagi pidato karena hanya membacakan materi yang sudah ada powerpoint sehingga saya males mengikuti karena ngantuk lagi tetapi saya sedikit teerhibur dengan penampilan kelompok ini karena kelompok ini menampilkan bebagai macam video bagus dan sesuai dengan materi sehingga saya sedikit lebih semangata apalagi penjelasan video jiga menarik. Tetapi untuk tampilan pada power point gambarnya lagi-lagi terlalu sedikit, dan hal tersebut membuat saya bosan melihat powerpointnya jadi menurut saya penampilan powerpoint itu harus dilengkapi dengan gambar-gambar yang menarik dan banyak sehingga aduiens dapat lebih jelas dan lebih tertari untuk mengikuti presentasi.karena pada presentasi kemarin banyak audiens yang tidak memperhatikan dan ngobrol sendiri.
Pada presentasi ini muncul berbagai pertanyaan diantaranya :
Pertanyaan pertama dari Susan menanyakan tentang metode analisis apa yang digunakan pada gambar peta vegetasi yang ditampilkan pada slide? Jawaban dari kelompok ini yaitu metode non floristika.
Pertanyaan kedua Priska menanyakan tentang perbedaan hutan primer dan hutan sekunder?. Jawaban dari kelompok ini saya rasa sudah cukup bagus yaitu hutan primer adalah hutan yang telah mencapai umur lanjut  dan cirri structural tertentu yang sesuai dengan pematangannya sehingga dengan demikian memiliki sifat-sifat ekologi yang murni. Sedangkan hutan sekunder adalah hutan yang tumbuh kembali secara alami setelah ditebang atau dirusak.
Pertanyaan terakhir dari Fitri saya kurang tahu karena pada saat itu anak-anak ramai sehingga saya tidak mengerti dan tidak dapat menagkap dengan jelas pertanyaan yang diberikan oleh sodari fitri.
Berdasarkan  presentasi kelompok ini saya bisa mengerti tentang analisis vegetasi yaitu suatu cara yang digunakan untuk mempelajari susunan atau komposisi suatu vegetasi. Selain itu saya juga mengerti tentang teknik dan metode yang digunakan dalam analisis vegetasi.

Hasil Refleksi Kelompok 9 ( ekosistem )
Presentasi yang disampaikan kelompok 9 membuat saya nguuaantuukk lagi kerena presentator tidak menampilkan sesuatu yang menarik dan lucu melainkan hanya membacakan materi yang sudah ada di power point hal ini yang membuat saya ngantuk. Tetapi meskipun aku duduk di belakang sendiri saya masih mendengarkan dan memperhatikan low jadi saya dapat sedikit menangkap materi yang di tampilkan kelompok ini.
Pada presentasi kali ini muncul berbagai macam pertanyaan diantaranya :
Pertanyaan pertama muncu dari sodara Hatta menanyakan tentang energi dalam proses fotosintesis?
Pertanyaan kedua muncul dari sodari Veni menyakan penjelasan tentang produktivitas primer kotor dan produktivitas primer bersih?
Jawabanya adalah produktivitas primer kotor adalah seluruh bahan organik yang dihasilkan dari proses fotosintesis pada organisme fotoautotrof sedangkan produktivitas primer bersih adalah sisa energi produktifitas primer kotor yang baru disimpan. Biomassa organisme autotrof (produsen) diperkirakan mencapai 50%-90% dari seluruh bahan organik hasil fotosintesis.
Dari presentasi yang kelompok ini, saya bisa memahami tentang apa itu ekosistem. Sehingga dengan begitu saya bisa menjaga suatu ekosistem supaya tidak rusak dan terjaga kelestariannya, karena apabila ekosistem mengalami kerusakan akan menyebabkan berbagai macam bencana alam.


Senin, 12 Desember 2011

REFLEKSI KELOMPOK 3 & 4


KELOMPOK 3
Presentasi yang disampaikan kelompok 3 membuat saya nguuaantuukk lagi kerena presentator tidak menampilkan sesuatu yang menarik dan lucu melainkan hanya membacakan materi yang sudah ada di power point hal ini yang membuat saya ngantuk. Tetapi meskipun aku duduk di belakang sendiri saya masih mendengarkan dan memperhatikan low jadi saya dapat sedikit menangkap materi yang di tampilkan kelompok ini. Saya sedikit mengomentari tampilan powerpoint yang disajikan  kelompok ini karena menurut saya gambar yang ditampilkan pada power point hanya sedikit sehingga saya kurang begitu menarik dan tidak sesuai dengan apa yang disampaikan, karena hal tersebut sangat berpengaruh apabila terdapat gambar yang menarik dan sesuai dengan materi itu akan mempermudah audiens untuk mengerti materi yang disampaikan selain itu juga untuk menarik perhatian audiens. Saya melihat pada saat presentasi berlangsung banyak audiens yang ramai sendiri kerena presentasinya membosankan. Kemarin kelompok ini melakukan sedikit kesalahan yang membuat saya tertawa yaitu powerpoint pada slide tentang suhu ditampilkan gambar seperti thermometer yang pematerinya sendiri juga belum paham itu gambar thermometer apa hygrometer. Berdasarkan presentasi ini saya sedikit dapat memahami bahwa suhu  itu adalah faktor lingkungan yang dapat berperan secara langsung maupun tidak langsung terhadap organisme hidup misalnya saja pada proses pertumbuhan tumbuhan. Tetapi tetap saja saya tidak dapat memahami semua hasil presentasi  karena penampilan yang kurang menarik menurut saya, apalagi saat itu aku luuuuaaapeerrr bbuuuuaanggetttt makanya gak paham-paham hehehehe….
KELOMPOK 4
Pada presentasi kelompok 4 masih aja kayak orang algi pidato karena hanya membacakan materi yang sudah ada powerpoint sehingga saya males mengikuti karena ngantuk lagi tetapi saya sedikit teerhibur dengan penampilan kelompok ini karena kelompok ini menampilkan bebagai macam video bagus dan sesuai dengan materi sehingga saya sedikit lebih semangata apalagi penjelasan video jiga menarik yaitu tentang siklus hidrologi. Tetapi untuk tampilan pada power point gambarnya lagi-lagi terlalu sedikit, dan hal tersebut membuat saya bosan melihat powerpointnya jadi menurut saya penampilan powerpoint itu harus dilengkapi dengan gambar-gambar yang menarik dan banyak sehingga aduiens dapat lebih jelas dan lebih tertari untuk mengikuti presentasi.karena pada presentasi kemarin banyak audiens yang tidak memperhatikan dan ngobrol sendiri. Berdasrkan presentasi kemarin saya tidak banyak menangkap hasil diskusinya tetapi saya hanya mengetahui sedikit mengenai atmosfer  dan air merupakan faktor abiotik yang mempengaruhi ekologi tumbuhan.

REVIEW PRESENTASI KELOMPOK 1 & 2


Kelompok 1.
Saat mengikuti  presentasi kemarin saya merasa tidak semangat alias muualesss karena saya duduk di belakang sendiri dan saya merasa nguantuk, padahal presentasi yang di tampilkan kelompok 1 cukup bagus sehingga saya sedikit dapat menangkap materi yang diberikan oleh pemateri. Saya dapat mengetahui apa pengertian dasar dalam ekologi tumbuhan yang menurut saya merupakan suatu studi yang mempelajari struktur dan fungsi pengkajian hubungan kelangsungan organisme terhadap lingkungan. Selain itu saya sedikit bingung mengenai pertanyaan yang menyangkut pengertian hutan kota yang menurut saya itu merupakan Hutan kota adalah sebidang lahan sekurang kurangnya seluas beberapa hektar untuk menanam  vegetasi pepohonan dengan kerapatan dan jarak penanaman pohon sesuai aturan penanaman pohon yang baik. Dan untuk pertanyaan selanjutnya yaitu bagaimana cara membentuk hutan dilingkungan yang padat penduduk saya sedikit menambahkan menurut saya untuk membuat sebuah hutan di lingkungan yang padat penduduk memang sulit tetapi kita harus tahu terlebih dahulu apa pengertian dan fungsi hutan itu sendiri, untuk pengertianya menurut saya hutan itu merupakan suatu wilayah yang memiliki banyak tumbuh-tumbuhan lebat yang berisi berbagai pohon dan fungsi hutan itu sangat banyak salah satunya untuk mengurangi polusi udara, oleh karena itu untuk membuat hutan dalam lingkungan yang padat penduduk sangat sulit tetapi dapat dilakukan dengan cara menanam pohoh yang tidak membutuhkan tempat yang luas sehinggah dapat di tanam di tempat yang sempit, penanaman tersebut sudah dapat dikatan membentuk hutan meskipun jumlahnya tidak banyak tetapi sudah cukup membantu membentuk lingkungan yang asri dan bebas polusi meskipun di tempat yang padat penduduk. Untuk sejauh ini yang saya ketahui dari presentasi kelompok 1 cuma ini karena saya tidak semangat mengikuti presentasi karena capek dan nguantuk apalagi presentasinya tidak ada hal-hal yang lucu dan menarik yang dapat membuata saya lebih bersemangat hehehehee..




Kelompok 2.
Pada Presentasi ke 2 saya semakin merasa tidak semangat lagi karena saya tidak dapat memahami meteri yang di tampilkan oleh kelompok 2. Tetapi karena penampilan yang ditunjukan oleh salah stu presentator membuat saya tertawa dan sedikit semangat oleh karena itu saya dapat menangkap sedikit materi yang ditampilkan mengenai pengertian lingkungan yang menurut saya merupakan kompleks dari berbagai faktor kehidupan yang meliputi lingkungan biotik dan lingkungan abiotik,dan saya sedikit tertarik membahas salah satu pertanyaan yaitu apa pengaruh bunyi terhadap pertumbuhan, menurut saya bunyi tidak mempengaruhi pertumbuhan suatu tumbuhan karena factor yang mempengaruhi pertumbuhan adalah lingkungan,kadar nutrisi,suhu,cahaya,dan sebagainya. Dan menurut saya lingkungan tersebut mempunyai pengaruh besar bagi pertumbuhan suatu tumbuhan. Pertumbuhan tumbuhan juga dipengaruhi oleh faktor pembatas. Kelompok ini juga menjelaskan tentang Niche atau Nisia tetapi penjelasan yang di tampilkan sulit di pahami tetpai menurut saya pengertian dari nisia itu sendiri merupakan cara makhluk hidup untuk hidup dalam habitatnya. berdasarkan presentasi yang ditampilkan kelompok 2 tersebut saya dapat mengetahui bahwa ternyata tumbuhan juga bisa mengalami stres  hal tersebut di karenakan lingkungan yang tidak cocok menurut saya hehehe.tetapi kelompok 2 menjelaskan mengenai sebab tumbuhan itu dapat mengalami stress yaitu faktor biotik yang meliputi tumbuhan terhadap herbivora dan faktor abiotik yang meliputi tumbuhan terhadap air, salinitas, suhu, dan cahaya. kelompok ini juga menyebutkan hukum Liebig yang berbunyi pertumbuhan tanaman tergantung pada jumlah minimum. Tetapi saya masih tidak begitu paham mengenai materi yang ditampilkan kelompok ini hehehe..

Senin, 28 November 2011

pemanfaatan tumbuhan

Manfaat Pohon Aren
Pohon aren merupakan jenis tumbuhan yang banyak hidup di bumi Indonesia. Awalnya, pohon aren ini merupakan tumbuhan yang tergolong tumbuhan hutan dan tidak dibudidayakan. Namun, karena fungsi dan manfaatnya yang besar, pohon ini mulai dijadikan tanaman budidaya di Indonesia. Dalam Bahasa Sunda, pohon aren disebut tangkal kawung, dalam bahasa Latin disebut Arengga pinnata (Wurmb) Merill atau sinonimnya Arenga saccarifera Labill, famili Arecaceae, bakjuk (Aceh), Onau (Toraja, Sulawesi), Anau atau Neluluk atau anggong (Jawa), Mana atau Nawa-nawa (Ambon, Maluku), dan Hanau (Dayak, Kalimantan). Aren merupakan tumbuhan multiguna, memiliki banyak manfaat bagi kehidupan masyarakat. Pohon penghasil cairan manis ini juga memiliki fungsi dan peranan penting secara ekologis, ekonomi, sosial dan budaya, khususnya dalam kehidupan Urang Sunda.Pohon aren sudah dikenal sejak lama oleh masyarakat Indonesia, khusunya petani pedesaan Tatar Sunda. Pohon ini dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian 500mdpl-800mdpl. Pohon ini tidak membutuhkan tanah yang terlalu subur, dapat hidup di semua kondisi tanah (tanah liat, tanah berkapur dan tanah berpasir). Curah hujan yang ideal untuk pohon aren sekitar 1200mm/tahun, kedalaman air tanah 1-3 m, suhu rata-rata 25*C beriklim sedang sampai basah, tetapi tidak tahan pada daerah yang kadar asamnya tinggi. Karena itu, umumnya pohon aren bisa tumbuh di hampir setiap daerah di Indonesia.
Fungsi Ekologi, Sosial, Ekonomi dan Budaya
Pohon aren merupakan salah satu tumbuhan penyeimbang ekosistem dan ekologi pedesaan. Fungsi istimewa pohon aren secara ekologis adalah sebagai pengawet sumber daya alam terutama tanah. Akar serabut pohon aren sangat kokoh, dalam, dan tersebar sehingga memiliki fungsi penting bagi penahan erosi tanah. Selain itu, akar aren juga memiliki kemampuan mengikat air, sehingga pohon aren bisa ditanam di daerah yang relatif kering dan tidak perlu perawatan intensif. Ini juga membantu kelestarian lingkungan hidup terutama untuk penghijauan pada daerah lereng pegunungan dan sungai-sungai Sayangnya, budidaya aren di pedesaan Tatar Sunda saat ini kurang maksimal. Penyebabnya mungkin karena pada umumnya pohon-pohon aren yang tumbuh dan tersebar di kebun, huma dan talun (ladang) lebih utama dikembangbiakkan secara alami oleh careuh (musang). Semakin banyak musang yang mati karena diburu, maka semakin menurun pula populasi pertumbuhan pohon aren.
Bagi masyarakat Indonesia, termasuk Tatar Sunda, tumbuhan aren memiliki keragaman fungsi sosial, ekonomi, dan budaya. Misalnya sebagai bahan upacara adat, bahan obat-obatan, bahan bangunan dan perabotan rumah tangga, sumber bahan pangan, serta pakan ternak. Di beberapa daerah di Tatar Sunda yang masih memegang teguh tradisi leluhur, aren merupakan salah satu bahan untuk upacara adat. Pelepah dan daun aren biasa digunakan untuk sawen pada tanam padi, penutup bibit tanaman padi yang baru tumbuh di persemaian, serta ngalaksa dan nyalin seusai panen padi. Selain itu, pelepah aren juga dijadikan bahan permainan anak-anak lolorian (semacam perosotan) dan lain-lain.
Secara ekonomi, pohon aren berfungsi sebagai sumber pendapatan bagi sebagian masyarakat, misalnya bagi para pengolah nira dan gula aren. Nira aren dapat dibuat minuman (lahang) dan gula aren (gula kawung). Saguer, atau nira dari pohon aren juga dapat dibuat menjadi etanol (ethyl alcohol), yaitu bahan bakar alternatif untuk menggantikan minyak tanah, gas elpiji, dan bensin. Di kemudian hari mungkin nira bisa menjadi bahan bakar alternatif.  Gula aren (palm sugar) juga tak kalah manfaatnya. Untuk sagandu (satu buah) gula yang kualitasnya bagus, bisa dijual Rp 1.500,00 – 3.000,00. apalagi jika pasokan gula sedang menurun, harganya pasti cukup melambung. Satu bonjor (terdiri dari beberapa buah gula yang disusun dan dibungkus dengan pelepah pisang yang sudah kering) bisa mencapai harga hingga Rp 100.000-an. Penghasilan yang lumayan berarti untuk masyarakat pedesaan. Di samping nira dan gula aren, parutan batang aren yang berbentuk halus dan biasanya dicampur dengan dedak gabah dan bekatul juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak itik dan bebek. Tepung (aci) batang pohon aren yang sudah cukup tua dapat dibuat bahan beragam makanan kue tradisional. Buah aren yang sudah cukup matang dapat diolah menjadi cangkaleng (kolang-kaling) yang menjadi makanan khas di bulan Ramadlan. Meskipun harganya tidak sebagus harga gula aren dan cenderung musiman, produksi cangkaleng dan aci kawung lumayan menguntungkan. Bahkan di beberapa daerah di Indonesia seperti Temanggung, aci dan gula menjadi salah satu produk andalan bagi perekonomian masyarakat.
Daun aren yang masih muda biasa dimanfaatkan masyarakat pedesaan untuk bahan rokok linting yang diisi tembakau dan daun tuanya untuk bahan atap rumah. Ijuknya juga dapat digunakan untuk atap rumah, sapu, bahan tambang, penyaring air dan untuk sarang bertelur ikan di kolam. Sayangnya, saat ini sudah jarang rumah penduduk pedesaan yang beratapkan daun dan ijuk aren. Pemanfaatan ijuk sebagai atap masih terlihat untuk beberapa bangunan cagar budaya dan beberapa bangunan di objek wisata. Batang aren biasa digunakan sebagai saluran air (talang), titian (cukang), tongkat serta coet (cobek) ruyung. Selain itu, lidi dari tulang daun aren bisa dibuat sapu lidi seperti lidi daun kelapa, hanya lebih keras dan tidak mudah patah.
Khasiat pohon aren untuk perawatan kecantikan dan kesehatan
Kita mungkin sering terlupa dengan keberadaan berjuta tumbuhan tropis sebagai aset yang dapat dimanfaatkan untuk hajat hidup manusia. Salah satunya ialah kemanfaatan pohon aren dalam menjaga kesehatan dan perawatan kulit. Nira aren dapat dijadikan bahan obat-obatan tradisional, misalnya untuk haid yang tidak teratur, sembelit, sariawan, radang paru-paru, disentri, kepala pusing, dan untuk memulihkan keletihan. Gula aren (palm sugar) juga berkhasiat untuk menghambat penyerapan kolesterol oleh tubuh karena memiliki kandungan kalori dan serat yang tinggi, sehingga baik untuk pencernaan. Berdasarkan penelitian, cuka dari tuak aren juga biasa dijadikan bahan ramuan biopestisida pembasmi serangga hama di huma/ladang (Iskandar dan Iskandar: 2005). Selain itu, akar muda pohon aren biasa digunakan untuk obat kencing batu ginjal, dan akar tuanya untuk bahan obat sakit gigi.
Berkaca kepada tradisi perawatan masa lampau tidak ada salahnya, toch banyak manfaat yang bisa didapat. Kondisi cuaca sering tak bersahabat dengan kulit dan ketahanan tubuh kita merupakani salah satu faktor yang patut kita antisipasi meskipun dengan cara dan bahan tradisional yang terlihat sederhana. Tangkai daun atau pelepah aren yang dibakar (sarerang kawung) biasa digunakan untuk bahan kosmetik tradisional, yaitu untuk menghaluskan kulit, menghilangkan jerawat, mengobati penyakit cacar, dan luka bakar. Hasil pembakaran pelepah aren berupa abu berwarna keputih-putihan itulah yang dinamakan sarerang kawung. Biasa digunakan sebagai pupur (bedak). Para wanita Sunda zaman dulu konon menggunakan sarerang kawung sebagai bedak sehari-hari agar kulitnya tetap halus dan bercahaya. Untuk penyakit cacar atau jerawat, bisa menggunakan sarerang kawung sebagai bedak setiap menjelang tidur atau pagi hari. Insya Allah, selain menghilangkan rasa gatal juga bisa menipiskan noda/flek dan menghaluskan kulit.
Pohon penghasil air manis ini ternyata multiguna, dari akar hingga buahnya memberikan manfaat yang beragam bagi kehidupan manusia. Satu hal yang patut diperhatikan ialah kelestariannya karena hingga saat ini masih sulit dilakukan pembudidayaan, terutama di daerah pedesaan. Keberadaan dan kelangsungan hidup para musanglah yang membuat pohon aren ini masih ada di beberapa tempat. Semoga pembudidayaan yang sedang digalakkan menjadi cara efektif untuk kelangsungan hidup pohon serbaguna ini.      

sumber : http://niahidayati.net/manfaat-pohon-aren.html                                                                                 

Sabtu, 08 Oktober 2011

FAKTOR PEMBATAS EKOLOGI

Proses kehidupan dan kegiatan makhluk hidup termasuk tumbuhtumbuhan pada dasarnya akan dipengaruhi dan mempengaruhi faktor-faktor lingkungan, seperti cahaya, suhu atau nutrien dalam jumlah minimum dan maksimum. 
Dalam ekologi tumbuhan faktor lingkungan sebagai faktor ekologi dapat dianalisis menurut bermacam-macam faktor. Satu atau lebih dari faktor-faktor tersebut dikatakan penting jika dapat mempengaruhi atau dibutuhkan, bila terdapat pada taraf minimum, maksimum atau optimum menurut batas-batas toleransinya. 
Tumbuhan untuk dapat hidup dan tumbuh dengan baik membutuhkan sejumlah nutrien tertentu (misalnya unsur-unsur nitrat dan fosfat) dalam jumlah minimum. Jika hal tersebut tidak terpenuhi maka pertumbuhan dan perkembangannya akan terganggu. Dalam hal ini unsur-unsur tersebut sebagai faktor ekologi berperan sebagai faktor pembatas. 
Faktor-faktor lingkungan sebagai faktor pembatas ternyata tidak saja berperan sebagai faktor pembatas minimum, tetapi terdapat pula faktor pembatas maksimum. Bagi tumbuhan tertentu misalnya factor lingkungan seperti suhu udara atau kadar garam (salinitas) yang terlalu rendah/sedikit atau terlalu tinggi/banyak dapat mempengaruhi berbagai proses fisiologinya. Faktor-faktor lingkungan tersebut dinyatakan penting jika dalam keadaan minimum, maksimum atau optimum sangat berpengaruh terhadap proses kehidupan tumbuh-tumbuhan menurut batas-batas toleransi tumbuhannya.
Pengaruh faktor-faktor lingkungan dan kisarannya untuk suatu tumbuh-tumbuhan berbeda-beda, karena satu jenis tumbuhan mempunyai kisaran toleransi yang berbeda-beda menurut habitat dan waktu yang berlainan. Tetapi pada dasarnya secara alami kehidupannya dibatasi oleh: jumlah dan variabilitas unsur-unsur faktor lingkungan tertentu (seperti nutrien dan faktor fisik, misalnya suhu udara) sebagai kebutuhan minimum, dan batas toleransi tumbuhan terhadap faktor atau sejumlah faktor lingkungan tersebut. 
Dalam video tersebut china barat daya, dilanda kekeringan terburuk dalam seratus tahun ini. dan pemerintah china masih berusaha untuk mengembalikan kelestarian lingkungan di daerah tersebut.
pertumbuhan ekonomi, berdampak membahayakan keseimbangan ekologi. peralihan fungsi hutan menjadi lahan perkebunan, berdampak merusak siklus air pada lingkungan tersebut. Hutan menciptakan keragaman ekologi, termasuk tempat menyimpan cadangan air dan menampung hujan. Keberadaannya menjamin kelembaban suhu dan air bawah tanah. Tetapi, setelah semuanya berubah menjadi lahan perkebunan, hanya ada satu jenis pohon, peran ekologinya berkurang secara signifikan.
Kehilangan Vegetasi dan pembabatan hutan, juga diyakini sebagai penyebab terjadinya badai pasir yang menyerang China utara. penyebab utama badai pasir adalah sirkulasi atmosfer, namun pengundulan hutan dan hilangnya keseimbangan vegetasi merupakan faktor penyebab yang signifikan. Tanpa ini, tidak akan ada sumber pasir.
Seharusnya pemerintah china perlu mengambil langkah tegas dan nyata dalam melestarikan lingkungan. Bila tidak, akan terjadi banyak bencana di masa mendatang dengan kapasitas penduduk dan jumlah lahan yang dikelola, hendaknya dikaji secara nyata. Jika tidak, lingkungan akan hancur, jadi faktor lingkungan sangatlah berpengaruh terhadap ekologi tumbuhan disekitarnya.



sumber :
http://elfisuir.blogspot.com/2010/02/lingkungan-sebagai-faktor-pembatas.html

Minggu, 02 Oktober 2011

AUTEKOLOGI DAN SINEKOLOGI

Autekologi
Autekologi, yaitu ekologi yang mempelajari suatu spesies organisme atau organisme secara individu yang berinteraksi dengan lingkungannya. Contoh autekologi misalnya mempelajari sejarah hidup suatu spesies organisme, perilaku, dan adaptasinya terhadap lingkungan. Jadi, jika kita mempelajari hubungan antara pohon Pinus merkusii dengan lingkungannya, maka itu termasuk autekologi. Contoh lain adalah mempelajari kemampuan adaptasi pohon merbau (Intsia palembanica) di padang alang-alang, dan lain sebagainya.
Autekologi, ekologi yang mempelajari suatu jenis (spesies) organisme yang berinteraksi dengan lingkunganya. Biasanya ditekankan pada aspek siklus hidup, adaptasi terhadap lingkungan, sifat parasitis atau non parasitis, dan lain-lain.
Autekologi, falsafah yang mendasarinya adalah dengan memandang sebagai ukuran yang menggambarkan kondisi lingkungan sekitarnya. Clements menyatakan bahwa setiap tumbuhan adalah alat pengukur bagi keadaan lingkungan hidup tempat ia tumbuh. Dalam hal ini paling sedikit yang dimaksut dengan alam lingkunganya adalah iklim dan tanah. Dari kajian ini lahir bidang kajian yang menilai bahwa tumbuhan adalah sebagai indikator alam atau indikator lingkungan hidup. Bidang kajian ini dikenal dengan ekologi fisiologi.
Sinekologi
Sinekologi (Ekologi Komunitas)
Sinekologi yaitu ekologi yang mempelajari kelompok organisme yang tergabung dalam satu kesatuan dan saling berinteraksi dalam daerah tertentu. Misalnya mempelajari struktur dan komposisi spesies tumbuhan di hutan rawa, hutan gambut, atau di hutan payau, mempelajari pola distribusi binatang liar di hutan alam, hutan wisata, suaka margasatwa, atau di taman nasional, dan lain sebagainya.
Sinekologi mempelajari kelompok individu sebagai suatu komunitas. Pengaruh lingkungan terhadap komposisi dan struktur vegetasi Morfologi, Anatomi, Histologi, Fisiologi, Genetika.
Sering pula kita dengar istilah lain seperti: ekologi jenis, ekologi populasi, ekologi komunitas dan ekologi ekosistem. Namun sekarang terdapat kecenderungan untuk meninggalkan pembagian seperti tersebut diatas. 

Judul Penelitian: Distribusi dan profil vegetasi lauraceae di hutan wornojiwo cibodas
Kawasan hutan wornojiwo merupakn hutan sisa (remmanat forest) yang ada dalam kawasan kebun raya Cibodas. Huatan Wornojiwo mewakili komonitas hutan alami sub-montana disekitar Cibodas yang dahulu merupakan satu kesatuan dengan hutan sub-montana di Gunung Gedde.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, terdapat lima marga dan enam jenis suku lauraceae di hutan wornojiwo, yaitu: cinnamomun cassia, criptocarya ferra, litsea mappacea, Parsea excels, persea rimisa dan phoebe grandis. Sebagian besar individu Lauraceae yang ada menempati strarifikasi tajuk paling atas (lapisan 4 dan 3).
Berdasarkan nilai INP total vegetasi pohon yang ada di Wornojiwo, suku Lauraceae memiliki nilai INP (akumulasi dari semua jenisnya) sebesar 12,74 persen.
Berdasarkan hasil pengamatan Cryptocarya ferrea memiliki dbh paling besar yaitu 120 cm dan merupakan pohon tertinggi yang mencapai tinggi 40 m. Walupun ukuran dbh relative tidak menunjukkan dominasi penggunaan sumber daya. 
Asossiasi antara Lauraceae dan Fagaceae di Hutan Wornojiwo tidak di jumpai karena hutan ini merupakan hutan sekunder.
Analisis:
Berdasarkan hasil review diatas dapat disimpulkan bahawa penelitian tersebut menggunakan pendekatan autekologi, karena yang dibahas dalam penelitian tersebut hanya spesies dari Lauraceae, baik intraksi dengan lingkungannya ataupun penyabarannya.  Untuk mendownload jurnalnya Klik disini.